tim marawis man4 nahdhotus shabab

05.05 Posted In Edit This 0 Comments »











  • Sejarah Marawis


Hajir Marawis merupakan salah satu seni alat musik yang merupakan kembangan dari alat musik rebana. Rebana adalah salah satu alat musik yang pada saat itu dimainkan oleh para Wali-wali Allah SWT dalam mengembangkan dan menyiarkan agama yang dirihoi Allah SWT yaitu Islam, khususnya di Negara Indonesia ini.

Hajir marawis merupakan hasil kembangan dari alat musik rebana. Alat musik ini pertama kali dibuat oleh suatu Thariqah yang memainkannya disebut dengan DARWIS. Beliau ini adalah para Wali Allah SWT yang diberikan kelebihan-kelebihan (Karomah) oleh Allah SWT, cukup dengan memainkan alat musik ini, mereka dapat merubah butiran-butiran pasir yang ada di lautan menjadi butiran-butiran permata yang sangat mahal harganya. Selain itu, ada riwayat yang mengatakan bahwa pada saat Rasulullah SAW tiba hijrahnya dari kota Mekkah ke kota Madinah, beliau disambut dengan meriah oleh wanita-wanita Bani Najjar yang mereka juga memainkan alat musik ini, spontan Rasulullah SAW berkata : “Aku mencintai wanita-wanita Bani Najjar”.

Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis itu merupakan jamak dari kata “MARWAS” yaitu adalah salah satu alat musik. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, dhumbuk (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu.

Terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta pernikahan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islami.

Sembilan tahun silam, seni marawis belum populer seperti saat ini. Di tanah Betawi, seni marawis awalnya hanya dimainkan oleh orang-orang keturunan Arab khususnya dari Hadramaut, Yaman. Bahkan, ada semacam anggapan bahwa marawis hanya dimainkan mereka yang masih keturunan Nabi SAW (Habaib). Marawis dimainkan orang-orang keturunan Arab untuk memeriahkan acara Maulid Nabi SAW. Selain itu, juga berkembang untuk meramaikan arak-arakan pengantin.

Saat ini, hampir semua majelis ta’lim di Jakarta memiliki kesenian marawis. Mereka belajar seni marawis di Kampung Arab, Pejaten Timur Pasar Minggu. ''Tahun lalu saja sudah ada hampir 170 grup marawis. Sekarang mungkin lebih dari 200 grup,'' papar Hasan yang telah 15 tahun ini mengelola seni marawis. Satu grup marawis terdiri dari 10 orang. Setiap orang menabuh alat musik. Ada yang menabuh marawis, menabuh hajir dan dumbuk. Seni marawis ini ternyata tidak selalu diisi dengan tarian. Menurut Hasan, tari-tarian dilakukan jika ada acara-acara khusus. ''Misalnya, kalau ada panggung baru,'' ucapnya.

Mengingat hal demikian, kami selaku BPH Hajir Marawis Nahdhatusy-Syabaab MAN 4 Model Jakarta juga akan mengikuti cara dakwah beliau dengan melantunkan irama shalawat serta salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW agar mereka semua yang mendengarkan dan memainkannya akan bangkit rasa cintanya kepada Nabi besar Muhammad SAW.

Di samping itu pula, didalam memainkan alat musik ini kami juga akan mengikuti sunah rasul SAW yaitu meramaikan pesta pernikahan dengan pukulan-pukulan rebana, sebagaimana sabdanya : “Ramaikanlah pesta pernikahanmu dengan iring-iringan rebana”. yaitu dengan melantunkan irama musik padang pasir, gambus maupun syiria yang akan menghibur hati mereka yang sedang melaksanakan akad nikah. Mudah-mudahan dengan kegitan ini, tidak lain tidak bukan, kami ini hanya mengharapkan ridho dari Allah SWT dan kekasih-Nya, yaitu Nabi besar Muhammad SAW… Amin Yaa Robbal ‘Alamin